Senin, 25 April 2011

Gedung Pertama Di Indonesia Yang Sertifikasi Green Building Oleh GREENSHIP

Proses sertifikasi GREENSHIP New Building dari Green Building Council Indonesia di tapak proyek Gedung Menteri Pekerjaan Umum, Jakarta Selatan. Papan petunjuk ini dipasang pada awal tahun 2011 menandakan gedung pertama di Indonesia yang mendaftar dan secara resmi dalam proses sertifikasi green building oleh GREENSHIP. Gedung ini sudah berstatus ‘Registered Project GREENSHIP NB’

Senin, 11 April 2011

Kinerja Ekonomi Rata-Rata Indonesia Periode Tahun 2005 – 2009

No. Kriteria (%)
1. Pertumbuhan Ekonomi = 5
2. Laju Inflasi = 8.7
3. Index Gini = 38
4. Pengangguran = 8.1
5. Kemiskinan = 14.6
6. Investasi dari PDB = 27
7. Pertumbuhan Industri = 2.6
8. Pertumbuhan Ekspor = 11.5
9. Pertumbuhan Impor = 13.6

Sumber : World Factbook, BI, BPS

Rabu, 06 April 2011

Sumbang Saran Tentang Jalan di Indonesia : Kenapa Jalan Di Indonesia Cepat Rusak ???

Oleh : Sulastadi, M.Sc *

Faktor Penyebab Kerusakan Jalan:
1. Konstruksi jalan yang kurang kuat
2. Jumlah beban yang melebihi kapasitas

Konstruksi yang kurang kuat:

Waktu pembangunan baru, mutu konstruksi memang kurang kuat yang disebabkan tidak sesuainya dengan spesifikasi dalam kontrak akibat lemahnya supervisi.
Terlambat diadakan rehabilitasi terhadap perkerasan pada jalan baru, sehingga jumlah rencana ESAL telah terlampaui. Perkerasan jalan menjadi tidak kuat lagi menahan beban repetisi.
Mutu pemeliharaan jalan kurang memadai sehingga konstruksi menjadi kurang kuat yang disebabkan oleh terlambatnya tindakan turun tangan, drainasejalan kurang baik, pengerjaan tidak sesuai dengan spesifikasi akibat lemahnya pengawasan.

Jumlah beban yang melebihi kapasitas:

Kemelesatan dalam perencanaan akibat pertumbuhan kenaikan jumlah kendaraan diluar digaan. Jumlah kumulatif ESAL dicapai lebih awal dari umur rencana sehingga perkerasan jalan telah menjadi “fatigue” sebelum umur rencana dicapai.
Kendaraan berat dengan muatan berlebihan mempunyai daya rusak yang berlipat ganda dibandingkan dengan kendaraan standar. Penjelasannya sebagai berikut:

Daya Rusak Truk Terhadap Jalan Yang Dilewatinya :

Penulisan ini dimaksudkan untuk sekedar memberikan gambaran mengapa jalan raya pada umumnya menjadi cepat rusak setelah dilewati oleh truk dengan muatan yang berlebihan beratnya. Sebagai tambahan informasi akan disampaikan beberapa hal yang terkait dengan istilah-istilah yang dipakai untuk penyebutan suatu jalan

ISTILAH

Pembahasan akan dilakukan dengan metode-metode yang ada pada ilmu teknik jalan raya, khususnya yang berkaitan dengan perkerasan jalan. Dalam hal ini istilah-istilah tentang kendaraan yang sering digunakan adalah:
- Kendaraan ringan(berat total kurang daro 3.0 ton) misalnya: mobil penumpang, pikap, mobil hantaran, kendaraan ringan 2 ton(1+1).

- Kendaraan berat (berat total 3.0 ton atau lebih) misalnya: bis 8 ton(3+5), truk 2 as 13 ton(5+8), truk 3 as 20 ton(6+7+7), traktor, trailer.

Jalan adalah prasarana transportasi darat dan menurut Undang-Undang Jalan4), jalan sesuai dengan peruntukannya terdiri atas jalan umum dan jalan khusus. Jalan umum dikelompokkan menurut system jaringan, fungsi, status, dan kelas.

Kelompok menurut system jaringan: jalan primer, jalan sekunder.
Kelompok menurut fungsi : jalan arteri, jalan kolektor, jalan lokal, dan jalan lingkungan.
Kelompok menurut status : jalan nasional, jalan privinsi, jalan kabupaten, jalan kota dan jalan desa.
Kelompok menurut kelas : jalan bebas hambatan, jalan raya, jalan sedang, dan jalan kecil.

Jalan umum adalah jalan yang diperuntukkan bagi lalu lintas umum. Jalan khusus adalah jalan yang dibangun oleh instansi, badan usaha, perseorangan, atau kelompok masyarakat untuk kepentingan sendiri.

Jalan tol adalah jalan umum yang merupakan bagian system jaringan jalan dan sebagai jalan nasional yang penggunanya diwajibkan membayar uang tol.

Teori Perhitungan

Dengan menggunakan rumus yang ada (1), seberapa besar daya rusak truk terhadap jalan yang dilewatinya dapat dihitung sebagai berikut:
1. Pertama-tama ditentukan “angka ekivalen”
2. Angka ekivalen dari suatu beban as kendaraan adalah angka yang menyatakan jumlah lintasan as tunggal seberat 8,16 ton(18.000 Lbs), yang akan menyebabkan derajat kerusakan yang sama apabila kendaraan tersebut lewat satu kali.
3. Angka ekivalen masing-masing golongan beban as (setiap kendaraan) ditentukan menurut rumus dibawah ini:

Rumus Angka Ekivalen :

A. Untuk as tunggal adalah = beban satu as dalam kg
B. Untuk as tandem adalah = 0,086 x beban satu as dalam kg
Keterangan:
As tunggal adalah kendaraan dengan 1(satu) as roda belakang.
As tandem adalah kendaraan dengan 2(dua) as roda belakang.

Disamping perhitungan angka ekivalen suatu kendaraan yang dibedakan oleh jumlah as rodanya, jumlah ban pada setiap roda juga harus dimasukkan dalam perhitungan. Dengan berat yang sama, roda kendaraan dengan 1(satu) ban akan mempunyai angka ekivalen yang lebih besar dibandingkan dengan yang memakai 2(dua) ban. Dalam pembahasan selanjutnya, yang dimaksud dengan kendaraan truk adalah yang roda belakangnya menggunakan 2(dua) ban (2,3). Dengan harapan untuk dapat lebih mudah dipahami, angka ekivalen suatu kendaraan diasumsikan sama dengan daya rusak untuk sekali lewat kendaraan tersebut.

Perbandingan Daya Rusak Sesuai Rumus:

Dengan menghitung angka ekivalen, daya rusak berbagai jenis kendaraan dapat dibuat perbandingannya sebagai berikut:
Daya rusak mobil penumpang sekali lewat dengan beban satu as 1000 kg = (1000:8160)(4) = 0.000225
Daya rusak truk kecil sekali lewat dengan beban satu as 4000 kg = (4000:8160) (4) = 0.05774
Kalau diperbandingkan : 1(satu) kali truk tersebut lewat, akan sama dengan 0.05774 : 0.000225 = 256 kali mobil penumpang yang lewat.

Daya rusak truk sekali lewat dengan beban satu as 8000 kg = (8000:8160) (4) = 0.9804
Perbandingan 1(satu) kali lewat truk tersebut dengan mobil penumpang sama dengan 0.9804 : 0.000225 = 4.357 kali
Apabila truk tersebut dengan 2(dua) roda belakang (as tandem, rumus B), dampak kerusakan akan relatif lebih kecil yaitu setara dengan 0,086 x 4.357 = 375 kali mobil penumpang.

Contoh :

Untuk mempermudah penggambaran, kita ambil contoh mengapa jalan dilingkungan menjadi cepat rusak setelah dilewati oleh truk material untuk pembangunan disekitarnya.
Misalkan jalan dilingkungan perumahan dirancang akan dilewati 50 kendaraan kecil(dengan as tunggal seberat 1000 kg) perhari dan perkerasan jalannya akan kuat selama 20 tahun, maka selama kurun waktu tersebut kendaraan kecil yang lewat berjumlah = 20x365x50 = 365.000
Apabila yang lewat ternyata 1(satu) truk material (dengan as tunggal seberat 8000 kg) perhari, maka perkerasan jalan tersebut hanya akan bertahan selama 365.000:4357:365 = 0.22 tahun atau sekitar 3(tiga) bulan.

Kesimpulan:

Kerusakan jalan yang dilewati oleh 256 unit mobil penumpang dengan beban satu as 1000 kg akan sama dengan kerusakan jalan yang hanya dilewati oleh 1(satu) unit truk kecil dengan beban satu as 4000 kg.
Truk material dengan beban satu as 8000 kg, dengan hanya 1(satu) kali lewat akan memberi dampak kerusakan pada jalan yang setara dengan apabila dilewati oleh 4.357 unit mobil penumpang dengan beban satu as 1000 kg.
Jalan lingkungan perumahan yang akan tetap dalam kondisi baik selama 20(dua puluh) tahun apabila dilewati rata-rata 50(lima puluh) mobil penumpang perhari, akan bertahan hanya sekitar 3(tiga) bulan apabila perhari dilewati oleh 1(satu) truk material dengan as tunggal seberat 8000 kg.
Truk dengan 2(dua) as roda belakang akan menyebabkan derajat kerusakan yang lebih kecil (hanya sebesar 86 perseribu) dibandingkan dengan truk dengan 1(satu) as roda belakang dengan berat yang sama.

References:
1. Buku Pedoman Penentuan Tebal Perke-rasan (Flexible) Jalan Raya. Departemen Pekerjaan Umum, Dirjen Bina Marga.
2. Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah. SK Meneteri No.330/KPTS/M/2002, tanggal 15 Agustus 2002. Pedoman Perencanaan Tebal Perkerasan Lentur.
3. E.J Yoder, M.W.Witczak. Principles of Pavement Design. Second Edition. A Wiley-Interscience Publication, John Wiley&Sons,Inc
4. Undang-undang Republik Indonesia No.38 Tahun 2004. Tentang Jalan.

*Penulis adalah pensiunan PNS Dep.PU & PT. Jasa Marga(Persero).
Pendidikan: S2(Highway Engineering) dari The University of New South Wales Australia.

Selasa, 05 April 2011

GO GREEN DENGAN ENERGI NUKLIR : Keselamatan Lingkungan & Masyrakat adalah Prioritas

Selain krisis ekonomi dan energi, pemanasan global (global warming) adalah problem nyata yang harus dihadapi dunia sejak awal abad 21 ini. Nuklir sebagai sumber energi yang sedikit mengeluarkan gas rumah kaca bisa menjadi salah satu pilihan dalam upaya kita menghadapi pemanasan global. Meski begitu aspek keamanan dan keselamatan bagi masyarakat dan lingkungan tetap harus menjadi prioritas utama.

Pengurangan emisi CO2, salah satu jenis gas rumah kaca penyebab pemanasan global adalah merupakan tantangan utama peradaban modern. Efisiensi penggunaan energi, pengurangan eskploitasi energi fosil (batubara, minyak dan gas) dan optimalisasi energi baru terbarukan merupakan langkah nyata yang harus kita lakukan bersama.

Energi nuklir sebagai sumber energi yang sedikit mengeluarkan gas rumah kaca menjadi salah satu pilihan guna mendukung upaya pelestarian lingkungan. Namun berkaca dari pengalaman terkini pemanfaatan energi nuklir, upaya peningkatan standar keselamatan operasional Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir akan tetap menjadi prioritas utama guna menjaga keselamatan lingkungan dan manusia, sekaligus menjawab tantangan pemanasan global.

Berbagai fenomena yang muncul, seperti perubahan cuaca yang sangat dinamis, kenaikan permukaan air laut, penurunan hasil panen pertanian dan perikanan, serta perubahan keanekaragaman hayati, secara nyata telah mempengaruhi kehidupan manusia, mulai dari kesehatan, perubahan standar kehidupan, kesejahteraan/ekonomi dan keselamatan. Kini komunitas global menyadari perlunya tindakan nyata untuk mengatasi pemanasan global melalui berbagai aktivitas yang dikenal dengan semboyan Go Green. Aktivitas Go Green didasarkan pada konsep pengurangan emisi gas CO2 sebagai salah satu gas rumah kaca penyebab pemanasan global.

Berbicara tentang konsep Go Green di Indonesia sangat erat kaitannya dengan sektor energi yang merupakan sektor dengan kontribusi terbesar emisi Gas Rumah Kaca (GRK). Saat ini sektor energi menyumbangkan 2/3 dari total GRK yang 30 persennya bersumber dari penggunaan pembangkit listrik yang menggunakan energi fosil. Hingga saat ini, pasokan energi di tanah air masih bergantung pada sumber energi fosil.

Namun begitu, sebagai negara besar Indonesia akan menjadi bagian dalam upaya bersama warga dunia mengatasi masalah pemanasan global. Dalam forum G-20 di Pittsburgh, Amerika Serikat serta dalam pertemuan COP 15 di Copenhagen tahun 2009, Presiden RI menegaskan bahwa hingga 2020 Indonesia bisa menurunkan emisi GRK sebesar 26% dan bahkan bisa mencapai sebesar 41% dengan bantuan negara maju. Pernyataan serupa disampaikan kembali pada kunjungan Presiden ke Norwegia akhir bulan Mei 2010. Hal itu bisa dicapai tentunya dengan cara optimalisasi pemanfaatan energi baru terbarukan (EBT) yang rendah emisi gas rumah kaca, atau dikenal dengan istilah Green Energy.

Nuklir, Green Energy?

Berdasarkan data IAEA (International Atomic Energy Agency) polusi yang dihasilkan oleh pembangkit listrik paling banyak bersumber dari pembangkit yang menggunakan bahan bakar fosil yakni batu bara, minyak bumi atau solar dan gas alam. Sebagai ilustrasi, setiap kWh energi listrik yang diproduksi oleh penggunaan energi fosil menghasilkan gas rumah kaca sebesar 974 gr CO2, 962 mg SO2 dan 700 mg NOX, sementara energi nuklir hanya menghasilkan 9 – 21 gram CO2/kWH. Studi ini disusun berdasarkan metode Life Cycle Analysis, suatu analisis yang menyeluruh dari hulu sampai hilir, mulai penambangan, transportasi, konstruksi pembangkit sampai operasi. Karena itu saat ini PLTN di dunia telah berhasil menurunkan pembakaran CO2 sebesar 2 gigaton per tahunnya.

Ini menunjukkan bahwa diantara berbagai jenis pembangkit listrik yang ada saat ini, nuklir merupakan pembangkit yang bersih dan ramah lingkungan, sehingga dapat digolongkan ke dalam green energy bersama dengan EBT lainnya, seperti energi surya, angin dan air. Sebagai sumber energi yang (hampir) bebas karbon, energi nuklir berpotensi untuk dijadikan salah satu opsi energi alternatif.

Keselamatan Lingkungan dan Masyarakat adalah Prioritas

Belajar dari pengalaman terkini kecelakaan PLTN Fukushima Daiichi Jepang pasca gempa dan tsunami yang menimpa negara tersebut, sedianya industri nuklir terus melakukan pengembangan sistem keselamatan operasional PLTN untuk menjamin keselamatan masyarakat dan lingkungan.

Pelajaran terpenting yang bisa dipetik dari kejadian tersebut adalah desain PLTN masa depan harus mengutamakan sistem keselamatan pasif dan Inhern Safety Fiture yang menjamin keselamatan reaktor nuklir dalam keadaan apapun, termasuk bencana alam yang dahsyat. Selain itu harus dipilih calon lokasi PLTN yang paling aman (probabilitas terjadinya bencana minimal) dan disertai kajian antisipasi kejadian yang paling buruk yang dapat terjadi (Design Basic Accident).

Pengembangan teknologi keselamatan ini akan mendukung pemanfaatan energi nuklir sebagai energi hijau untuk mencegah pemanasan global sekaligus menjamin keselamatan lingkungan dan masyarakat. Go Green dengan energi nuklir.

Sources:
Pusat Diseminasi Iptek Nuklir
Badan Tenaga Nuklir Nasional

semoga bermanfaat

AS

Jumat, 18 Maret 2011

Cahaya Jum'at : Sahabat Tauladan

Oleh Ahmad Syahirul Alim Lc*

Seperti biasa, Amirul Mukminin Umar bin Khattab RA menunggang keledainya di tengah kota. Selain untuk bertegur sapa dengan sahabat dan rakyatnya, Khalifah juga memeriksa kondisi rakyatnya, menolong orang-orang yang memerlukan, dan mencegah kezaliman terjadi di negerinya.

Hari itu, seorang nenek tiba-tiba menghentikan keledai yang ditumpangi Umar. Nenek itu langsung menceramahinya. "Hei Umar, aku dulu mengenalmu sewaktu kau dipanggil Umair (Umar kecil), yang suka menakuti-nakuti anak-anak di pasar Ukadz dengan tongkatmu. Maka hari-hari pun berlalu hingga kau disebut Umar, dan kini engkau Amirul Mukminin... Maka bertakwalah engkau kepada Allah atas rakyatmu! Barang siapa yang takut akan ancaman Allah maka yang jauh (akhirat) akan terasa dekat. Barang siapa yang takut akan kematian tidak akan menyia-nyiakan kesempatan, dan barang siapa yang yakin akan al-hisab (hari penghitungan), ia akan menghindari azab (Allah)."

Umar hanya terdiam mendengar perkataan sang nenek tua itu. Tak satu kata pun terucap dari mulutnya. Sampai-sampai Al-Jarud Al-Abidy yang menemani Umar merasa terganggu dengan sikap nenek tua itu. Al-Jarud berkata, "Hei Nenek, Engkau telah berlebihan atas Amirul Mukminin."

"Biarkanlah ia...," cegah Umar Ra kepada Al-Jarud. "Apa engkau tidak mengenalnya? Dialah Khaulah* yang perkataannya didengar oleh Allah dari atas tujuh lapis langit maka Umar lebih berhak untuk mendengarnya," tutur Amirul Mukminin.

Bahkan dalam riwayat lain, Umar berkata: "Demi Allah, seandainya ia tidak meninggalkanku sampai malam tiba, aku akan terus mendengarkannya sampai ia menunaikan keinginannya. Kecuali jika datang waktu shalat, aku akan shalat lalu kembali padanya, sampai ia menuntaskan keinginannya."

Umar RA selalu setia mendengarkan keluhan rakyatnya. Amirul Mukminin tak segan-segan untuk memohon maaf jika telah merasa lalai. Ia lalu menuntaskan hajat rakyat yang sudah menjadi kewajibannya. Sebagai khalifah, ia bahkan pernah memikul sendiri karung gandum dan menyerahkannya pada seorang janda di ujung kota.

Begitulah Umar memberikan keteladanan kepada kita semua. Seorang pemimpin hendaknya mempunyai pendengaran yang peka terhadap keluhan, bahkan kritikan rakyatnya. Ia menyadari betul, kekuasaannya hanyalah amanah yang harus ia tunaikan kepada para pemiliknya, yaitu rakyat yang dipimpinnya.

Khalifah Umar bukanlah tipe pemimpin yang haus sanjungan. Sebab, ia selalu mengingat firman Allah SWT, "Janganlah sekali-kali kamu menyangka, orang-orang yang gembira dengan apa yang telah mereka kerjakan dan mereka suka supaya dipuji terhadap perbuatan yang belum mereka kerjakan, janganlah kamu menyangka bahwa mereka terlepas dari siksa, dan bagi mereka siksa yang pedih." (Ali Imran: 188)

--
*Khaulah, gugatannya diabadikan dan menjadi asbabunnuzul surat Al-Mujadilah


*sumber: Republika cetak (15/3/11)

semoga bermanfaat

salam

AS

Kamis, 10 Maret 2011

Perawatan Berbasis Bahan Bakar

Perawatan Berbasis Bahan Bakar

Belakangan ini makin banyak pengelola armada peralatan di negara-negara maju mulai memanfaatkan angka konsumsi bahan bakar diesel sebagai standar untuk menentukan jadwal servis mesin. Metode ini dimaksudkan untuk mendapatkan indikator yang lebih presisi mengenai seberapa keras mesin bekerja. Sebenarnya logikanya sederhana saja. Semakin banyak BBM yag dibakar, semakin berat kerja mesin dan semakin cepat pula oli dan komponen dalam mesin mengalami keausan.

Makin Berat Mesin, Makin Cepat Keausan Mesin

Kondisi muatan menentukan kondisi komponen-komponen mesin. Muatan yang berat, misalnya, justru mempercepat keausan komponen-komponen. Itu berarti jenis muatan berpengaruh besar pada pemakaian bahan bakar. Sebab, ketika beroperasi, Anda tidak hanya menghidupkan mesin, tapi juga menggerakkan hidrolik, fuel injector, transmisi dan sebagainya.
Jumlah konsumsi bahan bakar bervariasi pada setiap mesin, bergantung pada aplikasinya. Ada alat yang interval servisnya dapat diperpanjang hingga 500 jam, sementara yang lain dapat diservis setelah 175 jam operasi. Selain itu, ada alat yang menghabiskan banyak bahan bakar, seperti Scraper, dan ada pula yang lebih efisien, seperti haul truck, dan seterusnya.

Menghitung Konsumsi Bahan Bakar
Armada-armada besar biasanya memiliki truk tangki bahan bakar sendiri untuk memasok kebutuhan setiap unit. Sebab itu, mereka lebih mudah menghitung konsumsi bahan bakar tiap mesin. Namun, tidak demikian dengan para pemilik armada-armada kecil, apalagi yang jumlah unit-unitnya terbatas. Mungkin mereka membeli solar secara eceran sehingga sulit menghitungnya.
Tetapi, apakah armada besar atau kecil, yang terpenting adalah bagaimana membangun sistem perhitungan pemakaian bahan bakar pada unit-unit Anda. Bagaimana merapihkan data-data itu, apakah secara manual atau komputerisasi sehingga Anda memiliki data yang akurat.

Studi Panduan Mencocokan Bahan Bakar Dengan Jam
Membuat jadwal servis berdasarkan data bahan bakar bukan perkara enteng. Cara tersebut bisa efektif jika Anda dapat mencatat data pemakaian bahan bakar secara akurat. Jika tidak, interval servis unit-unit Anda bisa kacau. Sebab itu, ada yang melakukan terobosan lain. Sekitar 5(lima) tahun lalu Brett Burgess dari Kokosing Construction, Fredricktown, Ohio dan Jack Butler melakukan studi untuk mengetahui mesin mana yang banyak melahap solar dan mana yang lebih hemat. Mereka menyesuaikan konsumsi bahan bakar unit dengan jumlah jam operasi.
Temuan kedua orang ini dapat memperpanjang servis excavator dari 250 jam menjadi 300 jam. Butler menambahkan, interval servis juga dapat menggunakan sejarah mesin atau perkiraan pabrik terkait konsumsi bahan bakar.
Meski angka konsumsi bahan bakar dapat menjadi cara paling akurat untuk mengukur interval servis mesin, ini bukan cara satu-satunya yang dapat digunakan dalam semua kasus. Sebab, ada alat yang bekerja sepanjang hari, dan ada yang bekerja pada jam-jam tertentu saja. Dalam kasus seperti ini, penjadwalan berbasis kalender dapat digunakan untuk mengetahui total pemakaian bahan bakar.
Sejumlah kontraktor membuat beberapa saveguard untuk memastikan interval servis mesin yang teratur . Mereka menentukan berdasarkan jumlah liter bahan bakar, kemudian berdasarkan jam dan terakhir berdasarkan hari.

Verifikasi Dengan Analisa Oli
Analisis oli secara rutin digunakan untuk memonitor kondisi mesin dan menginformasikan apakah interval dapat diperpanjang atau tidak. Untuk interval berbasis bahan bakar, analisa oli sangat penting digunakan. Ketika mesin bekerja lebih keras, maka akan lebih banyak butuh pelumasan. Mesin Anda mungkin memiliki tingkat oksidasi lebih tinggi dan Anda mungkin ingin menggunakan oli dengan kualitas lebih baik atau memperpendek interval mesin Anda.
Sulfur dapat menjadi masalah besar pada mesin. Jumalh sulfur dalam mesin diesel off-road dapat berfariasi dari 500 (ppm) hingga yang paling banayak 5.000 (ppm).
Total jumlah pelumas berdampak secara langsung terhadap kandungan sulfur pada bahan bakar. Kandungan sulfur memiliki andil besar dalam meningkatkan kadar asam dalam oli.

Membuat Komitmen
Mengubah sistem perawatan dari yang lama ke yang baru dapat menjadi urusan yang merepotkan, bahkan membahayakan. Mencoba-coba sesuatu yang baru tanpa menguasainya secara benar bisa sangat beresiko. Namun, cara yang paling mudah dan aman adalah dengan tetap berpegang pada interval servis yang telah direkomendasikan pabrikan.

source: majalah Equipment Indonesia

semoga bermanfaat

salam
AS

Selasa, 01 Maret 2011

What's a Green Building

Konsep Green Building / bangunan hijau dikembangkan pada tahun 1970-an sebagai respons terhadap krisis energi dan keprihatinan masyarakat tentang lingkungan hidup. Inovasi untuk mengembangkan green building terus dilakukan sebagai upaya untuk menghemat energi dan mengurangi masalah-masalah lingkungan.

Green building tidak mudah didefinisikan. Sering dikenal sebagai sustainable building / bangunan berkelanjutan, ada yang menyebutkan sebagai eco-homes/ bangunan yang berwawasan lingkungan. Ada berbagai pendapat tentang apa yang bisa digolongkan sebagai green building, pada umumnya setuju bahwa green building adalah yang strukturnya diletakkan, dirancang, dibangun, direnovasi dan dioperasikan untuk panduan hemat energi, dan memberi dampak positif bagi lingkungan, dampak ekonomi dan sosial. Namun singkatnya menurut Brenda & Robert Vale, green building merupakan suatu pola pikir dalam arsitektur yang memperhatikan unsur-unsur alam yang terkandung di dalam suatu tapak untuk dapat digunakan.

Elemen-elemen green building

Empat bidang utama yang perlu dipertimbangkan dalam green building: material, energi, air dan faktor kesehatan.

1. Material
Ini diperoleh dari alam, renewable sources yang telah dikelola dan dipanen secara berkelanjutan, atau yang diperoleh secara lokal untuk mengurangi biaya transportasi; atau diselamatkan dari bahan reklamasi di lokasi terdekat. Material yang dipakai menggunakan green specifications yang termasuk dalam daftar Life Cycle Analysis (LCA) seperti: energi yang dihasilkan, daya tahan material, minimalisasi limbah, dan dapat untuk digunakan kembali atau didaur ulang.

2.Energi
Perencanaan dalam pengaturan sirkulasi udara yang optimal untuk menurangi penggunaan AC. Mengoptimalkan cahaya matahari sebagai penerangan di siang hari. Green building juga menggunakan tenaga surya & turbin angin sebagai penghasil listrik alternatif.

3.Air
Mengurangi penggunaan air & menggunakan STP (siwage treatment plant) untuk mendaur ulang air dari limbah rumah tangga sehingga bsa digunakan kembali untuk tanki toilet, penyiram tanaman, dll. Menggunakan peralatan hemat air, seperti shower bertekanan rendah , kran otomatis ( self-closing or spray taps), tanki toilet yang low-flush toilet. Yang intinya mengatur penggunaan air dalam bangunan sehemat mungkin.

4.Faktor Kesehatan
Menggunakan material & produk-produk yang non-toxic akan meningkatkan kualitas udara dalam ruangan, dan mengurangi tingkat asma, alergi dan sick building syndrome. Materialyang bebas emisi, dan tahan untuk mencegah kelembaban yang menghasilkan spora dan mikroba lainnya. Kualitas udara dalam ruangan juga harus didukung menggunakan sistem ventilasi yang efektif dan bahan-bahan pengontrol kelembaban yang memungkinkan bangunan untuk bernapas.

Selain 4 bidang di atas, green building dapat menekan biaya untuk pekerjaan konstruksinya, dan memenuhi kebutuhan yang lebih luas dari masyarakat, dengan menggunakan tenaga kerja lokal, dan memastikan bangunan diletakkan tepat bagi kebutuhan masyarakat.


Pendekatan Holistik
Green building memerlukan pendekatan holistik yang menganggap masing-masing komponen dari sebuah bangunan, yang berhubungan dengan konteks seluruh bangunan & juga mempertimbangkan dampak lingkungan yang lebih luas dengan masyarakat di sekitarnya. Ini adalah pendekatan yang sangat kompleks yang memerlukan kontraktor, arsitek dan desainer untuk berpikir kreatif, menggunakan integrasi sistem di seluruh pekerjaan mereka. Ada beberapa teknologi dan metodologi penilaian yang dapat membantu pembangun dengan proses ini termasuk BREEAM (Building and Research Establishment Environmental Assessment Method) dan Eco-Homes.


Membangun Harapan untuk Masa Depan
Meskipun masih dalam masa pengembangan, green building termasuk pesat pertumbuhannya. Di negara maju seperti Ingris sudah menuntut spesifikasi green building dalam perencanaan & pembangunan bangunan baru, sebagai bagian dari strategi sustainable building yang lebih luas, dan ini berarti bahwa nantinya green building muncul di seluruh penjuru negeri. Dalam usia terancam oleh perubahan iklim, kekurangan energi yang semakin meningkat dan masalah kesehatan, memang masuk akal untuk membangun rumah yang tahan lama, menghemat energi, mengurangi limbah dan polusi, dan meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan. Green Building lebih dari sebuah konsep untuk hidup berkelanjutan, tetapi bisa membangun harapan untuk masa depan.

www.sustainablebuild.co.uk

semoga bermanfaan
salam


AS